Contohnaskah khutbah Idul Adha 2022 yang berjudul Sikap Rela Berkurban sebagai Bukti Cinta Sejati. Bisa dibaca oleh khatib setelah shalat Id usai. - Halaman all. Minggu, 24 Juli 2022; Bacajuga teks khutbah Idul Adha yang lain di sini. M Alvin Nur Choironi. Redaktur Islamidotco, alumni Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pegiat kajian tafsir dan hadis. Beralamat di Twitter: @alvinnurch. Topik: idul adha Idul Adha 1443 H Ismail kemanusiaan khutbah idul adha Kurban Shalat Idul Adha Takwa. Demikiangambar-gambar yang dapat kami kumpulkan mengenai teks khutbah idul adha ustadz adi hidayat. Menebar Maaf Membangun Kebersamaan. BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1442 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Ustadz Adi Hidayat dai kondang asal Bandung menyampiakan khutbah Idul Fitri dengan materi yang sangat menyentuh hati. KhutbahIdul Adha 1436 H: Tiga Pesan Moral Ibadah Haji Sebagai Spirit Kebangkitan Khutbah Idul Adha 1435 H: Generasi Idaman, Teguh Dalam Kebenaran dan Waspada Godaan Setan Khutbah Idul Adha 1434 H: Belajar Taqwa Dari Keluarga Ibrahim AS Perbaikan Diri Menuju Kejayaan Umat Khutbah Idul Adha 1434 H: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya Dalam Meraih Keberkahan Hidup Khutbah Idul . – Usulan agar libur Idul Adha 2 hari disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti di depan Wakil Walikota Surakarta Teguh Prakosa. Muhammadiyah melalui Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/ Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1444 H menetapkan bahwa tanggal 1 Zulhijah 1444 H jatuh pada Senin 19 Juni 2023, sehingga Idul Adha 10 Zulhijah jatuh pada Rabu 28 Juni 2023. Keputusan ini berdasarkan kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Hasil perhitungan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah ini, menurut Mu’ti, sangat mungkin berbeda dengan perhitungan Kementerian Agama yang kemungkinan besar akan menetapkan Idul Adha pada Kamis 29 Juni 2023 M. Pasalnya, beberapa tahun yang lalu banyak anggota Muhammadiyah yang telah menjadi PNS dan ASN di berbagai daerah harus berangkat ke kantor pada hari di mana warga Muhammadiyah lainnya sedang melaksanakan salat Id. “Jadi liburnya dua hari, yaitu tanggal 28 atau 29 Juni 2023. Saya kira yang pegawai negeri setuju itu. Ini usul Pak Wakil Walikota, karena pernah ada warga Muhammadiyah yang menjadi ASN tidak ikut lebaran Idul Adha karena harus pergi ke kantor,” ujar Mu’ti, lansir laman resmi Muhammadiyah. Usulan Mu’ti ini berlandaskan Pasal 29 ayat dua UUD NRI 1945, yang menyatakan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing, dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya. “Barangkali ini ada, syukur bila jadi libur nasional. Kalau tidak bisa, mungkin bisa dibuat khusus untuk Kota Surakarta. Supaya apa? Supaya kita bisa melaksanakan ibadah dengan tenang yang itu dijamin oleh konstitusi,” ucap Mu’ti. - Hukum khutbah Jumat adalah wajib, sementara hukum khutbah Idul Adha adalah sunnah. Nah seperti apa contoh khutbah jumat menjelang Idul Adha 2023? Jika Anda memiliki kesempatan memimpin khutbah jumat menjelang Idul Adha, cobalah dengan teks berikut! Simak contoh khutbah jumat menjelang Idul Adha 2023 yang disusun Contoh khutbah Jumat menjelang Idul Adha Bismillahirrahmanirrahim. Baca Juga Pemkot Makassar Kerahkan 100 Petugas Periksa Hewan Ternak Jelang Idul Adha Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang penuh dengan rahmat bagi seluruh alam. Hari ini, kita berkumpul di hadapan Allah SWT dengan hati yang penuh syukur dan sukacita karena sebentar lagi akan merayakan Idul Adha. Salah satu momen yang sangat berharga dalam agama Islam. Idul Adha adalah saat yang istimewa, di mana umat Muslim di seluruh dunia berkumpul untuk menyaksikan dan menghayati peristiwa penting dalam sejarah agama kita. Di tengah euforia dan kebahagiaan kita, marilah kita perhatikan satu ayat yang menjelaskan keutamaan Idul Adha. Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj, ayat 37, yang berbunyi "Lain bukan binatang-binatang kurban itu akan mencapai kepada Allah, dan bukan pula darahnya, tetapi yang mencapai kepada Allah adalah ketakwaanmu." Baca Juga Ekor Hewan Kurban di Jakarta Barat Dinyatakan Sehat, Pemkot Sapi yang Paling Banyak Diperiksa Ayat ini mengingatkan kita akan makna yang sebenarnya dari perayaan Idul Adha. Keutamaan Idul Adha bukanlah terletak pada jumlah binatang kurban yang kita sembelih atau darah yang mengalir, tetapi lebih kepada ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT. Idul Adha mengajarkan kita tentang kesediaan Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan anaknya, Ismail AS, sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada Allah SWT. Namun, ketika Allah SWT melihat keikhlasan hati Nabi Ibrahim, Dia menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus memahami bahwa Idul Adha adalah saat untuk mengorbankan apa yang paling berharga bagi kita, yaitu nafsu dan keserakahan kita. Idul Adha mengajarkan kita tentang keikhlasan dan ketulusan dalam beribadah kepada Allah SWT, mengorbankan yang kita cintai, seperti waktu, harta, dan kemampuan kita, demi meningkatkan hubungan kita dengan-Nya. Selain itu, Idul Adha juga mengajarkan kita tentang kepedulian sosial. Sebagian dari harta yang kita peroleh harus disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, untuk meringankan beban mereka. Kita belajar untuk berbagi dan merasakan kebahagiaan bersama dengan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Dalam mengejawantahkan makna Idul Adha, marilah kita selalu berusaha menjadi hamba yang lebih taat, lebih penyayang, dan lebih bijaksana. Mari kita menjaga ketakwaan dan ketulusan hati kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Mari kita perkuat hubungan kita dengan sesama manusia melalui sikap empati dan kepedulian. Dan marilah kita merayakan Idul Adha dengan hati penuh suka cita. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Itulah contoh khutbah Jumat menjelang Idul Adha 2023 yang bisa menjadi referensi anda. Kontributor Hillary Sekar Pawestri 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID S4Q6GLcOTMEo6ZLKGinwfWkUut5e55X0LQ9HIlSnAZMz9Zokc65OUw== Naskah khutbah Idul Adha menjelaskan betapa bermaknanya diberikan kesempatan untuk hadir dalam shalat Id. Tidak semata bertemu dengan keluarga, tetangga dan teman yang demikian lama tidak bertegur sapa karena kegiatan. Yang terpenting dari khutbah Idul Adha ini adalah kesempatan meneladani kisah dan pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim sehingga melahirkan generasi terbaik. Besar harapan, Idul Adha memberikan pengaruh besar kepada umat Islam untuk terus berupaya menangkap aneka nilai yang memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi kurban. Dan hal tersebut hendaknya terus berupaya dicamkan agar Idul Adha tidak semata seremonial tanpa bisa menangkap makna terbaik. Dan naskah khutbah ini dapat digandakan. Demikian pula bisa disebar kepada khalayak agar pesan moralnya dapat ditangkap sebagai bekal dalam menyiapkan generasi yang diharapkan di masa mendatang. Redaksi. Khutbah I اللهُ اَكْبَرْ 3× اللهُ اَكْبَرْ 3× اللهُ اَكبَرْ 3× اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ.. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah Marilah selalu memanjatkan syukur kepada Allah SWT karena pada pagi hari ini kita masih diberikan karunia untuk melakukan shalat Idul Adha di masjid yang penuh berkah. Demikian pula diberikan kesempatan bertemu keluarga, sahabat, tetangga yang mungkin jarang kita temui di hari biasa. Karenanya, ini adalah waktu istimewa yang disediakan untuk kita, umat Islam. Karenanya, mari aneka nikmat yang ada kita pergunakan dengan sebaik mungkin untuk meningkatkan takwallah yang diwujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hadirin yang Berbahagia Baru saja rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Baru saja kita mengakhiri shalat dengan menyebarkan salam sejahtera kepada semua makhluk sekitar. Sejak tadi malam sampai pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir. Allahu akbar allahu akbar allahu akbar la ilahaillahu allahu akbar. Allahu akbar walillahil hamdu. Di belahan dunia lain, di Mekah al-Mukkaramah, di hari-hari ini, jutaan umat Islam dari segenap penjuru dunia berdatangan dan berkumpul di Tanah Suci melakukan ibadah haji. Gemuruh dan gema kaum muslimin dan muslimat yang sedang menunaikan ibadah haji menyambut panggilan ilahi dengan mengucapkan talbiyah. Labbaikallahuma labbaik. Labbaika la syarika laa labbaik. Innal hamda wan nikmata la wal mulk la syarika laka. Maasyiral Muslimin yang Dirahmati Allah Idul Ahda yang khas dengan ibadah kurban merupakan bentuk rasa syukur pada Allah. Demikian ini karena banyaknya Allah telah melimpahkan anugerah. Kita telah diberi banyak hal oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Anggota tubuh yang kita miliki dari mulai kepala, telinga, tangan, kaki, hidung, dan lain-lain. Semuanya adalah nikmat yang tidak mungkin terbeli. Jika dihitung berapa harganya, pastilah tidak bisa dinominalkan. Pastilah bermiliar-miliar. Demikian juga, udara yang dihirup, biji-bijian yang dimakan, kendaraan yang ditumpangi, semuanya disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala Yang Maha-Pengasih dan Maha-Penyayang untuk manusia. Wallahu khalaqa lakum ma fil ardli jami’a. Allah Subhanahu Wa Taala telah menciptakan yang ada di dunia untuk kalian semua. Semua kalau dihitung dengan nominal angka manusia, pasti tiada terhingga. Tentang syukur ini, Allah berfirman وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Artinya Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat. Kemudian apabila telah roboh mati, maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. QS. Al-Hajj 36. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Hari Raya Idul Adha selalu saja menjadi rekonstruksi sejarah masa lampau. Sejarah kehidupan figur-figur agung para kekasih Allah Subhanahu Wa Taala, yaitu figur Nabiyullah Ibrahim 'Alaihis Salam, figur sang anak hebat Nabi Ismail, dan figur sang ibu luar biasa, Siti Hajar. Prosesi yang mengharu biru sejarah umat manusia adalah penyembelihan Nabiyullah Ibrahim AS pada putra tercintanya Nabi Ismail yang akhirnya diganti kambing oleh Allah. Selain sebagai bentuk kepatuhan pada titah Allah SWT, ibadah kurban adalah merupakan bentuk solidaritas atas sesama yang tercecer dari mobilitas sosial. Untuk mereka, yakni orang-orang fakir dan miskin. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang lesu di negara Indonesia imbas Covid-19, juga nilai tukar rupiah yang anjlok di kisaran dan menyebabkan makin sulitnya kehidupan saudara-saudara kita, adalah kewajiban untuk membantu. Nabi SAW sangat mengecam keras orang yang enggan berkurban, karena dalam Islam ibadah kurban bukan hanya ritus persembahan untuk meningkatkan spritualitas seseorang atau juga bukan tontonan kesalihan orang kaya semata. Namun, lebih dari itu, kurban adalah dalam rangka memperkuat kepekaan sosial, menyantuni fakir miskin dan membuat gembira orang sengsara. Kurban mencerminkan pesan Islam bahwa seseorang hanya dapat taqarrub kepada Allah, bila ia sebelumnya telah dekat dengan saudara-saudaranya yang kekurangan. Hadirin yang Dirahmati Allah Selain itu, ada beberapa hal yang dapat kita petik dalam sirah dan kehidupan agung Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Pelajaran pertama adalah pertanyaan Allah Subhanahu Wa Taala pada Nabi Ibrahim, faiana tadzhabun. Ketika Nabi Ibrahim yang dikenal kara raya dengan seribu ekor domba, tiga ratus ekor lembu, dan seratus ekor unta, beliau ditanya Hendak ke mana ia pergi? Maka beliau menjawab Inni dzahibun ila rabbi sayahdin. QS At-Takwir 26. Artinya Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia memberi petunjuk padaku. Bagi Ibrahim, tujuan akhir hidup manusia bukan kekayaan, bukan pangkat, bukan jabatan dan sebagainya, tetapi tujuan hidup manusia adalah Allah Subhanahu Wa Taala. Karena seperti dimaklumi sebagai sunnatullah, manusia selalu bergerak sesuai naluri bawaan, ingin memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya. Untuk memfasilitasi manusia, maka diciptakanlah berbagai sarana kehidupan mulai dari sandal, sepatu, jalan, kendaraan hingga peralatan yang lain agar manusia bisa hidup dengan nyaman. Manusia membangun jembatan, menggunakan jalur lautan dan juga udara. Manusia juga mengapling-kapling lautan dan udara sedemikian rupa sehingga mengurangi kemacetan di daratan. Jamaah Shalat Id yang Mulia Dalam perjalanan dan pengembaraan manusia secara fisik untuk mengetahui luasnya dunia, pada akhirnya terhambat secara teknis. Kemacetan tetap terjadi di daratan, lautan maupun udara. Oleh karena itu, manusia menciptakan internet dan teknologi fotografi serta televisi. Di masa sekarang, manusia hanya dengan duduk di komputer atau televisi, mereka sudah dapat menjangkau dunia yang lebih luas dan warna-warni, meskipun disajikan dalam bentuk potongan gambar, rekaman video atau foto. Mereka menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan di era visual age. Islam –seperti diperlihatkan Nabi Ibrahim—mentrandensikan jalan menuju Tuhan sebagai jalan kebahagiaan dan jalan menuju akhirat. Islam memberikan dimensi moral spritual agar aktivitas manusia memiliki tujuan yang lebih bermakna, bukan sekadar mobilitas fisik tanpa tujuan yang bersifat ilahi. Pertanyaan Allah pada Nabi Ibrahim adalah pertanyaan moral yang penuh makna Hendak dibawa ke mana harta kita? Hendak dibawa mobil kita? Hendak dibawa ke mana jabatan kita? Hendak dibawa ke mana pangkat kita? Hendak dibawa ke mana ilmu kita? Hendak dibawa ke mana tubuh kita? Di tengah hiruk pikuk manusia dengan berbagai aktivitasnya, maka menjadi penting untuk menanyakan kembali pertanyaan Ibrahim AS. Karena bisa jadi, yang primer bagi manusia secara faktual dewasa ini adalah avoiding the pain, menghindari apa pun yang menyakitkan. Lalu juga looking for the pleasure, mengejar apa pun yang dirasakan menyenangkan. Sehingga yang muncul hanyalah kehidupan materi duniawi belaka. Sebagaimana dikatakan oleh Prof Komarudin Hidayat, bahwa salah satu dimensi dan misi manusia sebagai moral being adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya di manapun berada. Moral being ini harus diwujudkan dalam ruang-ruang kantor, di kamar rumah, di masjid, di restoran, di warung kopi dan sebagainya. Tujuan hidup kita, lagi-lagi seperti teladan Nabi Ibrahim, adalah harus tertuju pada Allah. Tuhan semesta alam. Inna shalati wa nusuki wamahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Sesungguhnya shalatku, matiku, hidupku adalah untuk Allah. Setiap shalat, kita sudah seringkali mengikrarkan dalam lisan. Hadirin yang Dimuliakan Allah Pelajaran berharga lainnya yang bisa diteladani dari Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam adalah bahwa tujuan tertinggi manusia seperti doanya. Rabbi hab li minasshalihin. Ya Allah berilah kami anak-anak yang salih. Nabi Ibrahim meminta anak yang salih. Bukan anak yang pintar, bukan anak yang kaya raya. Bukan anak yang punya jabatan luar biasa. Bukan anak yang punya pangkat setinggi langit. Karena apalah arti anak kaya, anak berpangkat dan jabatan, anak yang pintar tapi mereka tidak salih. Karena itu, kata kuncinya adalah anak salih. Untuk mewujudkan anak yang salih, tentu bukan hal mudah. Pertama keluarga adalah hal utama dan pertama dalam mewujudkan anak salih. Jangan remehkan peran keluarga. Anak yang salih dan salihah, pasti tidak luput dalam pendidikan keluarga sejak dini seperti dilakukan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Keduanya berjibaku membentuk karakter Ismail sedemikian rupa. Mereka mengajarkan pendidikan agama pada Ismail sejak dini. Ini sama dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendidik anak-anak muslim Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara Mencintai nabimu, mencintai ahlu baitnya dan membaca Al-Qur’an. HR Tabrani. Dan sahabat Ali pernah berkata ْعَلِّمُوْا اَوْلَادَكُمْ فَاِنَّهُمْ مَخْلُوْقُوْنَ فِي زَمَانِ غَيْرِ زَمَانِكُم Artinya Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama dengan zamanmu. Jamaah yang Berbahagia Kedua, memberi keteladanan uswah kepada anak-anak kita. Bagaimana pun, keteladanan merupakan dakwah yang sangat manjur dalam mengarahkan anak. Dengan keteladanan yang ditampakkan sehari-hari, maka yang demikian ini akan mempengaruhi anak-anak. Keluarga yang mempertontonkan kejujuran dan kedermawanan akan berpengaruh bagi anaknya. Sebaliknya, keluarga yang mempertontonkan kedustaan dan kebakhilan juga akan anaknya meniru. Karena itu, Abdullah Nasih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad, mengutip syair Abul Aswad Adduwali yang melontarkan kecaman bagi pengajar atau orang tua yang tindak tanduknya bertentangan dengan ucapannya يا أَيُّها الرَجُلُ المُعَلِّمُ غَيرَهُ هَلَّا لِنَفسِكَ كانَ ذا التَعليمُ تَصِفُ الدَّواءَ لِذي السَّقامِ وَذي الضَّنا كَيْمَا يَصِحُّ بِهِ وَأَنتَ سَقيمُ وَتَراكَ تُصْلِحُ بالرَّشادِ عُقولَنا أَبَداً وَأَنتَ مِن الرَّشادِ عَدِيْمُ فَابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَن غَيِّهَا فَإِذَا اِنتَهَتْ عَنهُ فَأنْتَ حَكيمُ فَهُناكَ يُقبَلُ مَا تَقولُ وَيَهتَدِي بِالقَولِ مِنْك وَيَنْفَعُ التَّعْلِيْمُ Artinya Wahai orang yang mengajar orang lain Kenapa engkau tidak juga menyadari dirimu sendiri. Engkau terangkan bermacam obat bagi segala penyakit agar semua yang sakit sembuh. Sedang engkau sendiri ditimpa sakit. Obatilah dirimu dahulu. Lalu cegahlah agar tidak menular pada orang lain. Dengan demikian, engkau adalah seorang yang bijak. Apa yang engkau nasihatkan akan mereka terima dan ikuti, ilmu yang engkau ajarkan akan bermanfaat bagi mereka. Ketiga, kumpulkan anak-anak kita dengan teman-teman yang baik atau teman yang salih atau salihah. Teori habitus yang disampaikan oleh Pierre Bordieu menunjukkan bahwa habitus, tempat di mana kita berada, sangat berpengaruh pada manusia, pada anak-anak dan juga kepada adik-adik kita. Bordie menyebut habitus sebagai “struktur yang terstruktur”. Habitus adalah “lingkungan dari kekuatan yang ada”. Almarhum KH Abdul Muchith Muzadi, selalu memberi nasihat pada orang-orang Lebih baik sekolah yang berakhalkul karimah meskipun 'tidak bermutu' daripada 'bermutu' tapi tidak berakalakul karimah. Untuk memilih pendidikan yang karena itu, carilah habitus yang baik-baik. Jangan terjerumus pada habitus yang kurang baik sehingga menyebabkan kita masuk dalam habitus tersebut. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Demikianlah khutbah yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. بسم الله الرحمن الرحيم قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّي وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبًِهِ فَصَلَّي بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ Khutbah II الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الحمدُ لله أفَاضَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا وَأَعْظَمَ. وَإنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا, أشهَدُ أنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَسْبَغَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبدُهُ ورَسُوْلُهُ. رَسُوْلٌ اِصْطَفَاهُ عَلَى جَمِيْعِ الْبَرِيَّاتِ. مَلَكِهَا وَإنْسِهَا وَجِنِّهَا اللهم صَلِّ وسَلًِمْ علىَ سَيًِدِنا محمدٍ وَعلىَ ألهِ وأصحابهِ أهلِ اْلكَمَالِ فِى بِقاَعِ الأرْضِ بُدُوًِهَا وقَرَاهَا .اللهم صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أل سَيَّدِنا مُحَمًَدٍ. كما صَلًّيْتَ عَلَى إبراهيم وَعَلىَ ألِ إبْرَاهِيم, وبَارِكْ عَلىَ مُحَمًَدٍ وَعلىَ ألِ محمدٍ, كما بارَكْتَ عَلىَ إبْرَاهِيمَ وعَلَى ألِ إبرَاهيم فى العالَمِيْنَ إنًَكَ حميدٌ مجيدٌ اللهم اغفِرْ لِلْمسلمِيْن والمُسْلِمَاتِ والمؤمنِيْنَ والمؤمِناتِ الأحياءِ مِنْهُمْ والأمْوَاتِ. إنك سميعٌ قريبٌ مجيبُ الدًَعَوَاتِ ويَا قَاضِىَ الحَاجَاتِ. اللهم وَفَّقْنَا لِعَمَلٍ صَالِحٍ يَبْقَى نَفْعُهُ عَلىَ مَمَرِّ الدُّهُورِ. وجَنَّبْنا مِنَ النَّوَاهِى وَأعمَالٍ هِىَ تَبُوْر. اللهم أصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا. وبارِكْ لنا فِى عُلُوْمِنا وأعْمَالِنا. اللهم أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنا. ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رحمةً إنكَ أنْتَ الوَهابُ. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار عبادَ الله! إنًَ اللهَ يَأمُرُكمْ بالعَدْلِ والإحسَانِ وإيتاءِ ذِى القُرْبىَ ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ والمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلًَكُمْ تَذَكًَرُون. فَاذْكُرُوا الله يَذْكُرْكُم واشكُرُوا عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ .ولَذِكْرُ اللهِ أكبَر

khutbah idul adha hidayatullah